EMISI DAN SERAPAN KARBON MENURUT DATA SATELIT OCO-2: STUDI KASUS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Authors

  • Erryka Tantania Author

Keywords:

Perubahan iklim, Karbon Dioksida, Satelit OCO-2

Abstract

Pengukuran  konsentrasi  gas  CO₂  di  atmosfer  masih  sangat  terbatas, terutama  di  wilayah  seperti Kalimantan  Barat  yang  belum  terpantau secara  menyeluruh.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisis emisi dan serapan karbon di Kalimantan Barat selama periode 2015–2022 menggunakan data satelit Orbiting Carbon  Observatory-2  (OCO-2).  Data OCO-2  dikoreksi  menggunakan  pengamatan  dari  stasiun  GAW Kototabang, Bariri Palu, dan Kemayoran. Hasil validasi menunjukkan nilai RMSE sebesar 6.42–16.81, serta korelasi Pearson berkisar 0.30–0.55, yang mengindikasikan kebutuhan koreksi data lanjutan namun memiliki hubungan yang cukup baik. Secara umum, konsentrasi CO₂ di Kalimantan Barat meningkat dari 400–406 ppm pada  2016  menjadi  423  ppm  di Kabupaten  Bengkayang  pada  2022.  Peningkatan  ini  diperkirakan  akibat urbanisasi, perkembangan industri, dan perubahan penggunaan lahan. Variabilitas iklim juga memengaruhi tren CO₂. El Nino kuat pada 2015–2016 menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan, mengurangi serapan karbon hingga 507 ppm pada 2016. Sebaliknya, fenomena La Nina “triple-dip” pada 2020–2022 meningkatkan curah hujan, yang berdampak pada peningkatan serapan karbon hingga 1756 ppm pada 2022. Analisis spasial menunjukkan  wilayah serapan lebih luas dan anomali CO₂ menurun selama  La Nina dibandingkan saat El Nino.  Selain  itu  faktor  musim  juga ikut  mempengaruhi  tren  CO2.  serapan  CO₂  cenderung  meningkat pada musim hujan dan menurun saat musim kemarau dan kebakaran hutan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengamatan  satelit  OCO-2  dapat memberikan  data  akurat  untuk  mendukung  mitigasi  dan  adaptasi perubahan iklim di Indonesia. 

Downloads

Published

2025-04-28